Saturday, October 31, 2015

Cerita Rakyat Malin Kundang Menjadi Batu

Sumatra Barat, suatu provinsi di Pulau Sumatra yang tidak ada habisnya untuk di bahas. Sumatra Barat tidak hanya kaya akan tradisi, makanan dan tempat wisata, namun Sumatra Barat juga dipenuhi oleh beragam kisah legenda dan cerita rakyat. Cerita Rakyat adalah salah satu warisan leluhur yang eksistensinya masih terjaga hingga kini yang pada zaman dahulu terjadi dan masih dikenang sampai saat ini. Bahkan cerita rakyat ini semakin berkembang seiring perubahan zaman.

Di zaman sekarang ini, siapa yang tidak pernah mendengar tentang kisah cerita dari Malin Kundang? Jika kita berkunjung ke kota Padang cerita tentang Si Malin ini sudah menjadi legenda. Malin terkenal sebagai Lelaki miskin di daerah Minang kabau yang hidup hanya berdua bersama ibu kandungnya. Malin sangat sayang ibunya dan sangat menjaga ibunya begitu pula sebaliknya. 



Malin kundang tinggal di daerah perkampungan sekitar Pantai Air Manis kota Padang. Ia tinggal berdua saja dengan ibunya. Ibu Malin adalah seorang janda. Ibu Malin bernama Mande Rubayah. Dulu bapak Malin bekerja sebagai nelayan. Bapak nya sudah lama pergi berlayar dan tidak pernah kembali. Kabar terakhir yang beredar dari para warga sekitar bahwa bapaknya sudah meninggal.  Sepeninggal bapaknya, kehidupan Malin dan ibunya semakin susah dan miskin. Mande rubayah sangat sayang kepada Malin. Ia bekerja mati-matian sendiri untuk dapat membesarkan Malin. 

Malin adalah anak yang pintar dan baik. Malin terus tumbuh semakin dewasa. Ketika ia sudah tumbuh dewasa, ia ikut membantu ibunya mencari nafkah. Semua pekerjaan mau dilakukannya, ia membantu para-para pedagang dipasar untuk mendapatkan sedikit upah. Selain itu ia juga membantu warga-warga yang belanja kepasar untuk dibawakan beberapa kantong belanjaannya. Karena waktu ke waktu kehidupan nya tidak berubah, terlintas oleh Malin untuk pergi berlayar agar kehidupannya berdua ibunya dapat lebih baik.

Pada suatu hari, niat nya ini disampaikan kepada ibunya untuk meminta izin. Mande Rubayah menolak dan tidak menyetujui niat si Malin. Mande Rubayah tidak ingin Malin meninggalnya. Tetapi Malin tetap menyakinkan ibunya bahwa ia akan jaga diri dan baik-baik saja selama berlayar. Malinpun menceritakan semua maksud dari niat ia untuk pergi berlayar. Malin ingin membahagiakan ibunya. Malin ingin mengais rezeki di laut. Malin tidak ingin ibu hidup miskin seumur hidup. Mendengar penjelasan dari Malin, ibunya tetap berat melepaskan Malin dan tetap tidak mengizinkan Malin pergi berlayar. Ibunya takut Malin seperti bapaknya, yang pergi merantau pergi berlayar dan akhirnya tidak pernah pulang sampai sekarang. 

Waktu demi waktu berlalu. Setiap hari Malin selalu meminta izin kepada ibunya untuk pergi berlayar. Malin bersikeras untuk pergi, dan pada akhirnya dengan berat hati sang ibu luluh dan mengizinkannya. Malin pun senang dan ia segera mempersiapkan baju-bajunya untuk pergi berlayar keesokan hari. Ia pergi berlayar bersama warga sekitar, seorang saudagar kaya raya. Ia menumpangi kapal saudagar kaya tersebut. Pertualangan Malin pun dimulai. Pulau demi pulau ia lalui. Selama dikapal ia memiliki banyak teman, ia diajarkan banyak ilmu-ilmu berlayar oleh teman-teman barunya tersebut.

Ketika sedang berada di tengah laut, kapal yang ditumpangi Malin mengalami musibah. Para perampok mengepungi kapal mereka dan merampok seluruh isi yang ada di kapal. Semua teman-teman berlayar Malin di bunuh  tetapi Malin terbebas dari perampok dengan keluar dari kapal. Malin terjun kelaut, terombang-ambing di tengah lautan dan akhirnya terdampar di suatu pulau. Pulau yang subur dan pulau yang padat penghuninya. Di pulau itu Malin hidup untuk seterusnya. Ia bekerja apa saja disana. Ia sangat rajin. Dari kerja kecil-kecilan, membantu warga sampai ia memiliki sebuah pekerjaan yang mapan. Pundi-pundi uangpun terus terkumpul oleh Malin. Sampai akhirnya ia kaya raya dipulau tersebut. 

Dipulau tersebut Malin bertemu dengan seorang gadis. Ia sangat menyukai gadis tersebut. Tak lama berkenalan Malinpun mempersunting gadis tersebut untuk dijadikan seorang istri. Tak lama setelah menikah, Malin mengajak istrinya untuk berlayar. Ibu Malin, Mande Rubayah yang sejak kepergian Malin berlayar selalu menunggu kepulangan Malin kerumah. Setiap pagi ia selalu menunggu didermaga berharap Malin akan pulang. Ia mendapat kabar bahwa Malin sudah menjadi saudagar yang kaya raya. Dan iapun mendapat kabar jika malin akan pulang kekampung halamannya. Mendengar kabar itu Mande Rubayah sangat senang dan tak sabar menunggu kepulangan anak kesayangannya itu.
Jauh berlayar akhirnya Malin dan istrinya singgah disebuah pulau. Pulau tersebut adalah pulau tempat kelahiran Malin. Kapal Malin semakin dekat. Mande Rubayah sudah menuggu Malin ditepi dermaga. Ia yakin laki-laki yang berdiri diatas kapal itu adalah anaknya. Bathin seorang ibu tak pernah salah. Malin juga mempunyai tanda luka dikeningnya yang dari kecil berbekas dan tidak bisa hilang. 

Setelah kapal itu benar-benar merapat didermaga, ibu Malin langsung berlari dan naik ke atas kapal. Ia langsung memeluk Malin dan berkata, “anakku malin, kemana saja engkau, sudah lama engkau meninggalkan ibu nak, tidak memberi kabar kepada ibu. Ibu sangat rindu kepadamu Malin” ucap ibunya. Mendengar ibunya berkata seperti itu sambil memeluknya dengan berpakaian yang sangat kotor, Malin sangat malu. Ia malu dengan istrinya mempunyai ibu yang miskin. Iapun marah dengan ibunya dan berpura-pura tidak mengenal ibunya tersebut. Ibunya menangis melihat kelakuan Malin. Ibunya yakin bahwa laki-laki itu anaknya Malin, ia terus menyakinin bahwa ia adalah ibu lelaki itu. Tetapi malin tetap mengingkarinya.

Malin berkata kepada  semua orang bahwa ibunya telah meninggal. Mendengar pernyataan Malin tersebut dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, Mande Rubayah sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena tidak bisa menahan  kemarahannya, Mande terduduk dan berdoa sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku yang selama ini hamba rawat dan besarkan, aku kutuk dia menjadi sebuah batu". 

Tak lama kemudian cuaca disana langsung berubah. Angin bergemuruh kencang, langit menjadi hitam dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Hujanpun datang dengan lebatnya. Malinpun terkejut dan langsung meminta maaf kepada ibunya. Malin bersujud meminta ampun, tak lama setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan-lahan berubah menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. 

Kandungan Cerita Malin Kundang Anak Durhaka

Dalam cerita rakyat terkandung nilai luhur bangsa terutama nilai-nilai budi pekerti maupun ajaran moral. Adapun kandungan nilai-nilai dalam cerita rakyat Malin Kundang diatas adalah: 

Nilai-nilai moral individual, meliputi:

  1. Kepatuhan,
  2. Keberanian,
  3. Rela berkorban,
  4. Jujur,
  5. Adil arif dan bijaksana,
  6. Saling menghormati dan menghargai,
  7. Bekerja keras,
  8. Menepati janji,
  9. Tahu Balas Budi,
  10. Baik budi pekerti,
  11. rendah hati, dan
  12. Hati-hati dalam bertindak.

Sedangkan nilai-nilai moral sosial, meliputi:

  1. Bekerjasama,
  2. Suka menolong,
  3. Kasih sayang,
  4. Kerukunan,
  5. Suka memberi nasihat,
  6. Peduli nasib orang lain, dan
  7. Suka mendoakan orang lain.

Nilai-nilai moral religi, meliputi:

  1. Percaya Kekuasaan Tuhan,
  2. Percaya Adanya Tuhan,
  3. Berserah Diri kepada Tuhan/Bertawakal, dan
  4. Memohon Ampun kepada Tuhan.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon