Tuesday, October 20, 2015

Sejarah Candi Borobudur Magelang

Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur. Bangunan raksasa yang ada di  Indonesia  tepatnya di Magelang, Jawa Tengah, yang menjadi salah satu objek wisata yang sangat terkenal di Indonesia. Candi Borobudur menjadi salah satu bukti kehebatan
dan kecerdasan manusia yang pernah dibuat di Indonesia. Candi Borobudur juga telah menjadi obyek wisata yang menarik banyak wisatawan baik lokal maupun turis-turis  mancanegara. Candi Borobudur juga telah menjadi tempat suci bagi penganut agama Buddha di Indonesia dan menjadi pusat perayaan tahunan paling penting bagi penganut agama Buddha yaitu Waisak. Karena itu banyak masyarakat menyebut Candi Borobudur ini dengan sebutan Candi Budha.  

Pada abad ke-13, agama Hindu dan Buddha mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Raja Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa mendirikan Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Mereka membangun banyak candi dan tempat pemujaan bercorak India-Jawa. Pengaruh agama Buddhapun mulai memasuki zaman keemasannya di Indonesia. Raja-raja Medang beralih  memeluk agama Buddha. Mereka menamakan diri sebagai Wangsa Syailendra.

Sejarah Candi Borobudur Magelang

Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra di abad ke-9. Pendiri Candi Borobudur berasal dari Wangsa Syailendra yaitu Raja Samaratungga. Candi Borobudur didirikan dalam masa kejayaan dan keemasannya sekitar tahun  800 dibawah pimpinan kerajaan Sriwijaya. Candi Borobudur dibangun diperhitungkan memakan waktu sekitar 75 tahun. Dari bukti yang dikumpulkan Istana Sejaarah terkuak bahwa arsitek Candi Borobudur bernama Gunadharma, yang berasal dari India. Figur wajah Gunadharma konon bisa dilihat dari lekuk Bukit Menoreh yang tak jauh dari Candi Borobudur. Bangunan Candi ini sendiri terdiri dari 6 persegi yang di atasnya terdapat tiga platform berbentuk lingkaran dan didekorasi dengan 2.672 panel berisi relief-relief dan patung Budha sebanyak 504 buah. 

Borobudur berasal dari gabungan kata-kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata sansekerta  yaitu ''vihara'' yang berarti kompleks candi dan bihara. Sedangkan Budur dalam bahasa Bali berarti  ''beduhur''  yang artinya atas. Jadi nama borobudur berarti bihara atau kelompok candi yang terletak di atas bukit. Tidak hanya memiliki nilai seni yang  tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu) dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Candi Borobudur merupakan salah satu dari rangkaian tiga buah candi yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Borobudur yang dibangun dalam satu garis lurus yang dilihat dari atas. Ini melambangkan urutan prosesi ritual dari Mendut menuju Pawon lalu menuju Borobudur. Ketiga candi ini memang memiliki arsitektur, seni pahat, kisah relief, serta unit bangun yang sama dan senada.

Pada tahun 1811 hingga 1816, sejarah mengenai berdirinya Candi Borobudur kembali terungkap ketika Jawa dikuasai oleh Inggris. Thomas Stamford Raffles yang saat itu ditunjuk untuk memimpin memiliki ketertarikan akan sejarah Jawa. Saat ia sedang melakukan inspeksi ke Semarang pada tahun 1814, ia mendapatkan informasi tentang sebuah monumen besar di dalam hutan dekat desa Bumisegoro dan ia segera melakukan investigasi dengan mengirim H.C. Cornelius untuk menyelidiki semua informasi yang dia terima. Pekerjaan Cornelius  terhambat dan terhenti oleh ketakutan akan runtuhnya Borobudur. Tak lama setelah itu pada tahun 1835 pekerjaan H.C. Cornelius pun dilanjutkan oleh Hartmann dan akhirnya seluruh komplek Borobudur berhasil digali.

Pada pemerintah Dutch East Indies, ia memerintakan F.C. Wilsen untuk menggambar sketsa relief-relief yang ada dengan bantuan J.F.G Brumund. Pada tahun 1885, barulah sejarah candi Borobudur yang kita tahu selama ini tertulis, tepatnya karena restorasi oleh pemerintah belanda di tahun 1907 hingga 1911 yang dipimpin oleh Theodor van Erp. Rekonstruksi awal berjalan selama tujuh bulan, dan Van Erp melanjutkan restorasinya hingga tingkat Chatra yang ada di atas stupa yang akhirnya dia batalkan karena batu asli yang digunakan tidak mencukupi. Renovasi besar-besaran baru terjadi pada tahun 1960 oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO. Pondasi diperkokoh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi, UNESCO memasukkan Candi Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia No. 592 pada tahun 1991.

Demikian informasi yang dapat Istana Sejarah kumpulkan. Semoga kita sebagai rakyat Indonesia khususnya daerah Kota Magelang dapat melestarikan peninggalan sejarah yang kita miliki. 





Artikel Terkait

1 komentar so far


EmoticonEmoticon