Monday, October 12, 2015

Sejarah Gedung Pancasila Jakarta

Sekitar tahun 1830 Gedung Pancasila mulai dibangun dan gedung ini sendiri didesain oleh J. Tromp. Pada awal pembangunannya, gedung Pancasila
diperuntukan sebagai kediaman untuk Hertog Bernhard yang nantinya akan menjadi hunian dari komandan tentara kerajaan Belanda. Gedung yang terdapat di Jl. Pejambon No. 6, Jakarta Pusat ini berfungsi sebagai tempat dilakukannya pertemuan Volksraad/Dewan Rakyat, yang di motori oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada waktu itu bersama dengan Jendral J.P Van Limburg Stirum dan Thomas B.S yang menjadi menteri urusan koloni Belanda. Beberapa sumber lain juga menyebutkan bahwa Dewan Hindia atau dalam bahasa Belanda Raad Van Indie juga menggunakan gedung ini untuk menjalankan tugasnya sebagai penasehat gubernur jenderal.

Gedung Pancasila Bernama Gedung Volksraad

Volksraad adalah sebuah Dewan Perwakilan Rakyat yang tugasnya memberikan nasihat kepada gubernur jenderal. Mengingat gedung bekas panglima yang dilihat cukup memadai untuk tempat persidangan Dewan Perwakilan Rakyat/Volksraad, pemerintah Hindia-Belandapun meresmikan Gedung Volksraad pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum. Tidak ada catatan yang otentik sejarah asal berdirinya Gedung Pancasila, satu hal yang pasti bahwa ada beberapa literatur pembangunan gedung ini dimulai sekitar tahun 1830. Jika berada disisi bagian Timur dari Gedung Pancasila kita bisa menemukan Gereja Immanuel, benteng Pangeran Frederick, stasiun Gambir, dan pengadilan tinggi. Gedung ini dibangun untuk tempat tinggal bagi komandan tentara kerajaan Belanda.

Sebelum Gedung Volksraad dibangun, jenderal tentara dari kerajaan Belanda tersebut tinggal di tempat yang saat ini telah menjadi Gereja Katedral. Komandan tersebut menjual rumahnya seharga 20.000 gulden kepada Yayasan Gereja Katolik sebagaimana tercatat didalam surat keputusan tanggal 5 Desember 1828. Setelah membeli rumah tersebut, pihak gereja kemudian membangun sebuah gereja megah. 

Pada tanggal 9 April 1880 gereja inipun tiba-tiba runtuh. Akhirnya setelah dilakukan pembangunan kembali gereja tersebut digantikan oleh Gereja Katedral yang diresmikan 10 tahun setelah pembangunannya pada tahun 1901. Dikarenakan rumah tersebut telah dijual maka komandanpun membutuhkan sebuah rumah baru untuk didiami. Pada akhirnya rumah tersebut didirikan diatas sebuah taman yang nantinya dikenal dengan nama Taman Hertog yang diambil dari nama Panglima Belanda periode 1848-1851 bernama Hertog Van Saksen Weimar. Sejalan perkembangan taman inipun berganti nama yang saat ini bernama Taman Pejambon dan Lapangan Banteng di Jakarta. 

Setelah komandan Belanda tersebut dipindah tugaskan ke Kota Bandung, Gedung Volksraad dinilai cukup memadai untuk dijadikan tempat persidangan bagi Dewan Rakyat/Volksraad. Sejarah berdirinya Gedung Pancasila di Jakarta juga tercatat saat gedung ini telah resmi menjadi Gedung Volksraad pada Mei tahun 1918 oleh J. Limburg Stirum. Jika dilihat dari literatur peringatan ulang tahun Batavia ke-300, ditemukan bahwa Volksraad pernah menjadi pertemuan anggota Dewan Hindia-Belanda/Raad Van Indie. Gedung barupun dibangun Raad Van Indie disebelah barat gedung Volksraad, yaitu Jl. Pejambon No. 2.

Jumlah anggota Volksraad mencapai 60 orang dimana 30 orang berasal dari wakil Indonesia yang 19 diantaranya dipilih langsung, 25 orang Belanda, 4 orang perwakilan keturunan Tionghoa, serta 1 diantaranya seorang perwakilan keturunan Arab. Sidang Volksraad diadakan 2 kali dalam 1 tahun setiap tanggal 15 Mei dan pada hari Selasa di minggu ketiga bulan Oktober. Dalam 14 tahun perkembangannya Volksraad hampir tidak menghasilkan apapun. Volksraad hanya dapat memberikan 6 rancangan, dan hanya 3 yang dapat diterima oleh pemerintah pada masa itu. 

Sejarah Berdirinya Gedung Pancasila

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942 satu tahun setelah nya yaitu tahun 1943, pemerintah Militer Jepang membentuk Tyuuoo Sangi-in sebagai badan yang bertugas memberikan nasihat, masukan-masukan dan pertimbangan kepada pemerintah juga bertugas untuk mejawab pertanyaan pemerintah seputar politik serta tindakan apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Militer Jepang. Anggotanya terdiri dari 43 orang, 23 diantaranya merupakan orang pilihan, 18 orang utusan residenan Batavia, dan 2 utusan dari Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gedung Volksraad dijadikan sebagai tempat persidangan Tyuuoo Sangi-in untuk pertama kalinya. Pada tanggal 16-20 Oktober 1943 dibentuklah 4 komisi yang bertugas menjawab pertanyaan Saiko Syikikan tentang bagamana cara mencapai kemenangan dalam Perang Pasifik.

Ketika Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik, Jepang membentuk Dokuritsu Junbi Chosakai atau yang lebih dikenal dengan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mulai menyatakan gagasan dan kritiknya terhadap BPUPKI karena dilihat tidak ada niatan untuk merancang kemerdekaan Indonesia. Setelah itu BPUPKI mulai bekerja keras dan melakukan sidang tentang apa yang akan menjadi dasar negara Indonesia. BPUPKI pada saat itu menggunakan gedung Volksraad untuk melakukan persidangan yang menghasilkan bentuk awal dari Pancasila. Akhirnya gedung tersebutpun menjadi saksi kelahiran Pancasila yang saat ini bernama Gedung Pancasila. 

Gedung Pancasila Sekarang

Sekarang sesuai dengan perkembangannya Gedung Pancasila digunakan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan internasional, penandatanganan perjanjian, pertemuan bilateral dan resepsi diplomatik dalam rangka penyambutan kunjungan oleh para menlu dari negara-negara lain, serta jamun makan resmi dan tidak resmi.

Demikian informasi tentang Sejarah Berdirinya Gedung Pancasila Jakarta. Semoga informasi ini membawa manfaat bagi kehidupan kita akan nilai-nilai sejarah dan perkembangannya khususnya sejarah Indonesia. Mari bersama kita lestarikan sejarah dan budaya Indonesia agar tidak lekang oleh jaman. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.   


Artikel Terkait

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon