Sunday, November 8, 2015

Sejarah Danau Toba Sumatera Utara

HORAS!!
Di provinsi Sumatra Utara terdapat sebuah danau yang cukup terkenal. Danau yang terletak di tengah-tengah Sumatra Utara ini merupakan danau terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang memiliki panjang 100 kilometer, lebar 30 kilometer dan kedalaman  mencapai 505 m yang berada di ketinggian 900 meter. Danau ini bernama Danau Toba. Danau Toba merupakan danau vulkanik dimana terdapat sebuah pulau ditengahnya. Pulau tersebut adalah Pulau Samosir. Pulau Samosir ini memiliki cukup banyak penduduk. Mayoritas penduduk disekitar danau toba dan disekitar pulau ini adalah orang batak. Pulau Samosir sendiri memiliki luas 640 km2 dan merupakan pulau tengah danau kelima terbesar di dunia. Danau Toba kini sudah menjadi tempat wisata bagi masyarakat Sumatra Utara. Keindahan danau toba tidak hanya menarik wisatawan Indonesia saja, bahkan wisatawan luar negeripun ikut tertarik melihat keindahan danau toba ini.


Sejarah Danau Toba

Sejarah Indonesia mencatat, sekitar 73.000 – 75.000 tahun yang lalu sebuah gunung merapi di Sumatra Utara meledak. Ledakan ini cukup dasyat dan menjadi perhatian seluruh dunia. Ledakan yang terjadi adalah ledakan supervolkano dengan skala 8.0 Volcanic Explosivity Index (VEI). Skala 8.0 VEI dikatakan sebagai letusan supervulkanologi sangat dahsyat yang menghancurkan area seluas 20.000 km2 Sumatra Utara, dengan deposito abu setebal 600 m dengan kawah utama. Selain itu, Letusan dari Toba ini juga telah menurunkan temperatur bumi  saat itu sekitar 3 sampai 5 derajat celcius dan untuk dataran yang lebih tinggi perubahan yang berkurang mencapai 15 derajat celcius. Kejadian ini menyebabkan kematian massal  untuk masyarakat Sumatra Utara dan masyarakat didaerah lainnya dan kepunahan pada beberapa spesies makhluk hidup lainnya. Populasi manusia di bumi yang meninggal pada kejadian ledakan gunung merapi ini sampai 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia.

Sejarah Danau Toba Menurut Cerita Rakyat

Dahulunya di daerah Sumatra Utara sebelum Danau Toba terbentuk, daerah Toba masih terdiri dari sebuah gunung yang dikelilingi oleh sebuah lembah dengan aliran sungai yang sangat kecil. Di daerah ini hiduplah seorang lelaki. Ia adalah seorang pengembara yang datang dari daerah lain. Melihat daerah ini sangat subur, iapun menetap di daerah ini dan membangun rumahnya yang tidak jauh dari sungai. Kesehariannya untuk menghidupi dirinya agar bisa makan, lelaki ini berkebun dengan menanam unbi-umbian dan sayur-sayuran. Selain itu ia juga memancing ke sungai  untuk mendapatkan lauk untuk ia makan.

Sesuatu hari  ia pergi kesungai untuk memancing. Sesampainya di sungai ia mempersiapan semua peralatan pancingnya dan segera melemparkan umpan pancingnya kesungai. Sudah cukup lama ia duduk ditepi sungai dan memagang pancingannya itu, tapi tak satupun ikan menyentuh umpannya. Berkali – kali ia mengganti umpannya dan berkali – kali ia mengangkat dan melempar pancingnya ke tengah sungai tapi belum ada juga ikan yang memakan umpannya. Lelaki itupun merasa aneh mengapa tidak ada ikan yang mau memakan umpannya dan iapun berpikir apakah ikan yang ada di sungai ini telah habis. 

Tetapi lelaki ini penasaran. Iya tetap ingin memancing dan mendapatkan ikan. Iya terus menunggu umpannya dimakan oleh ikan di sungai itu. Sampai akhirnya hasilnya masih sama, tidak satupun ikan mendekati pancingannya. Dan iapun lelah dan memutuskan tidak memancing lagi. Namun ketika hendak menarik pancingannya, tiba – tiba pancingannya cukup berat. Iapun menarik pancingannya pelan – pelan ketepi sungai. Dan ternyata seekor ikan menyambarnya. Alahkah senangnya hati lelaki itu mendapatkan ikan yang besar dari hasilnya menunggu sekian lama. Iapun segera berlari pulang dengan sangat girangnya dan tidak sabar untuk menyantap ikan yang ia dapatkan.

Sesampainya di rumah, lelaki itupun meletakkan ikan pancingannya di dapur dan memasukkannya didalam sebuah keranjang. Kemudian ia pergi keluar mengambil kayu bakar untuk memanggang ikan tersebut. Saat kembali ke dapur berapa terkejutnya ia keranjang tempat ia meletakkan ikan tersebut berubah isinya. Ikan itu tidak ada dan berubah menjadi uang emas. Iya terkejut dari mana uang – uang emas ini datang dan mana ikan yang telah ia pancing itu. Iapun mencari kesetiap sudut rumah dimana ikannya tersebut dan sesampainya dikamar ia dikejutkan lagi dengan sosok perempuan cantik yang sedang didepan cermin menyisir rambut panjangnya yang terurai. 
“Hai, kamu siapa?”, tanya lelaki itu kepada perempuan cantik didepannya. Perempuan tersebutpun menceritakan asal usulnya. Ia menceritakan bahwa dirinya adalah jelmaan ikan yang lelaki itu bawa dari sungai tadi. Ia tidak ada bermaksud untuk mengganggu hidup lelaki itu. Dan kepingan uang emas yang ada di keranjang adalah penjelmaan sisik perempuan tersebut. Perempuan tersebut memohon izin untuk dapat tinggal dirumah lelaki itu. Lelaki itu sempat tidak percaya akan perkataan perempuan tersebut namun itu kenyataannya dan akhirnya lelaki tersebut mengizinkan perempuan jelmaan ikan hidup dirumahnya. 

Tak lama mereka hidup dalam satu atap, lelaki tersebut melamar perempuan itu. Perempuan itu mau menikah dengan satu syarat. Lelaki itu harus berjanji sampai kapanpun tidak akan menceritakan kepada semua orang bahwa ia adalah perempuan jelmaan ikan. Lelaki itu setuju dan berjanji. Akhirnya mereka menikah. Tak lama menikah mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Beberapa tahun kemudian, ketika anaknya sudah beranjak dewasa. Ibunya selalu meminta anaknya tersebut untuk mengantarkan nasi untuk ayahnya yang sedang bekerja diladang tetapi anaknya selalu menolak. Hingga suatu saat ibunya sakit dan ibunya meminta tolong kepada anaknya untuk mengantarkan nasi untuk ayahnya. Akhirnya karna ibunya sakit diapun dengan terpaksa mengantar nasi untuk ayahnya tersebut. Ditengah perjalanan ke ladang, anak tersebut lapar dan iya memakan setengah nasi yang dibungkuskan untuk ayahnya. Sesampainya di tempat ayahnya bekerja, iapun memberikan bungkusan nasi itu. Betapa terkejut dan marahnya ayahnya melihat nasi yang ia berikan untuk ayahnya adalah nasi sisa yang tinggal sedikit. Ayahnya marah kepada anaknya itu. Dan berkata “Dasar anak tidak tau diuntung! Kamu benar-benar anak keturunan ikan” anak itu menangis dan berkata, “Apa maksud ayah? Mengapa mengatakan aku adalah keturaunan ikan?” Ayahnya menjawab, “Asal kamu tau ibumu adalah penjelmaan ikan”.

Mendengar hal  tersebut anak tersebut langsung lari pulang kerumah dan menangis menghampiri ibunya. Iapun menjelaskan dan meminta penjelasan kepada ibunya apa benar dia adalah anak ikan. Mendengar itu semua, ibunya sangat marah. Suaminya telah melanggar janjinya. Perempuan tersebut menyuruh anaknya untuk pergi ke daratan yang paling tinggi, dan mengatakan kepada anaknya bahwa akibat dari janji yang telah di ingkari oleh ayahnya maka anaknya akan kembali wujud menjadi seekor ikan. Setelah anaknya berada tepat didaratan yang paling tinggi, perempuan itu berdoa kepada sang pencipta untuk mengembalikan wujudnya seperti semula, maka hujanpun turun sangat deras dan berlangsung sangat lama. Airpun meluap dan menenggelamkan tempat tinggal mereka , dan menjadi danau yang sangat besar. Anaknya pun berubah wujud kembali menjadi seekor ikan. Danau tersebut adalah Danau Toba, nama tersebut adalah nama yang diberi oleh masyarakat disekitar. Karena nama pemuda itu adalah Toba. Sehingga Danau ini disebut Danau Toba.

Artikel Terkait

2 komentar


EmoticonEmoticon