Friday, January 29, 2016

Sejarah Istana Cipanas Jawa Barat

Istana Cipanas adalah salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Sesuai namanya istana ini terletak di daerah Cipanas, Jawa Barat dekat dengan jalan raya yang menghubungkan Jakarta dan Bandung melalui puncak. Istana yang berjarak sekitar 103 km dari Jakarta atau sekitar 20 km dari kota Cianjur ini tepatnya terletak di Desa Cipanas Kab. Cianjur, di kaki Gunung Gede pada ketinggian 1.100 m diatas permuakaan laut. Bangunannya berdiri di atas lahan dengan luas 26 ha dengan luas bangunan mencapai 7.760 m2.



Kata Cipanas berasal dari bahasa sunda yang artinya ci atau cai adalah “air” dan panas berarti “panas”. Nama tersebut diambil karena daerah Cipanas memiliki sumber air panas yang mengandung belerang yang kebetulan sumber air panas tersebut berada di dalam komplek Istana Cipanas.
Dahulu pemilik Istana Cipanas adalah seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots tahun 1740. Pada masa pemerintahan Gubernur Jend. Gustaaf Willem van Imhof. Karena dinilai sangat bersih serta memiliki udara yang sangat sejuk dan segar, bangunan itu difungsikan menjadi sebuah resor dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Istana Cipanas juga telah digunakan untuk acara-acara penting dalah sejarah Republik Indonesia. Pada tanggal 13 Desember 1956, ruang makan di Gedung utama dijadikan oleh cabinet Soekarno untuk melakukan pertemuan dalam membuat keputusan mengubah nilai uang Indonesia dari Rp. 1,000 menjadi Rp. 1,00 (Redenominasi) yang pada saat itu posisi administrasi ekonomi dijabat oleh Meteri Keuangan, Frans Seda.

Sesuai dengan fungsinya, istana tidak digunakan untuk menerima tamu kecuali untuk acara-acara tertentu seperti pada saat kunjungan Ratu Juliana dari Belanda ke Indonesia di tahun 1971. Pada tanggal 14-17 April 1993, istana Cipanas juga digunakan sebagai tempat pertemuan untuk berperang faksi Filipina atas prakarsa Presiden Soeharto. Menteri Luar Negeri Ali Alatas memimpin negosiasi antara pemerintah Filipina dan kelompok MNLF (Moro National Liberation Front) yang dipipimpin oleh Nur Misuari. Semua delegasi menginap di komplek istana Cipanas.

Istana Cipanas terdiri dari bangunan utama, enam pavilion, sebuah bangunan khusus dan dua bangunan lainnya, satu adalah sebagai reservoir air panas dan satu lagi menjadi mesjid. 

Bangunan tua yang secara resmi disebut Gedung Induk Istana Kepresidenan Cipanas berdiri di atas lahan seluas 982 m2. Sesuai namanya, gedung in adalah gedung terbesar bila dibandingkan dengan bangunan lain di komplek istana. Gedung utama digunakan oleh Presiden Indonesia atau Wakil Presiden dan keluarga mereka untuk beristirhat dan bersantai. Struktur asli bangunan utama dibangun mengunakan kayu jati dan ditegakkan dengan besi cor. Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa lantai dan dinding direnovasi.

Gedung utama sesuai dengan fungsinya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, ruang kerja, ruang bubuk, ruang makan dan teras belakang. Secara khusus, ruang tamu adalah diatas panggung dengan lantai kayu. Salah satu dinding lorong utama dihiasi dengan lukisan bernama Jalanan Seribu Pandang yang dilukis oleh Soejono DS yang dicat pada tahun 1958.

Meskipun dibangun secara bertahap, istana enam pavilion akhirnya dibangun disekitar Gedung Utama, tepatnya di halaman belakang gedung, Keenam pavilion dinamai karakter wayang di hindi epic Mahabharata yaitu, Yudhistira Pavilion, Nakula Pavilion, Sahadewa Pavilion, dan Abimanyu Pavilion. Pertam tiga paviliun di bangun pada masa kekuasaan Belanda di tahun 1916. Kemudian tiga paviliun lain dibangun di masa pemerintahan presiden Soeharto tahun 1983. Selain itu ada juga dua bangunan lainnya yang bernama Tumaritis I Pavilion dan Tumaritis II Pavilion yang letaknya terpisah dari Gedung Utama dan keenam paviliun.

Bangunan Bentol adalah bangunan yang unik terletak di belakang gedung utama dan jauh lebih kecil dari gedung utama dan keenam paviliun. Namun, bangunan ini berdiri lebih tingggi dari bangunan lain, termasuk gedung utama. Hal ini disebabkan fakta bahwa bangunan ini terletak di lereng gunung. Bangunan tersebut di arsiteki oleh 2 pria berkebangsaan Indonesia, RM. Soedarsono dan F. Silaban.
Pada bagian belakang Gedung Utama ada beberapa bangunan lainya. Namun peran paling besar untuk keberadaan Istana Presiden di Cipanas adalah sumber air panas mineralnya. Oleh sebab itu, untuk menampung limpahan air dibangunlah dua kamar mandi. Satu khusus untuk presiden atau wakil presiden dan keluarga mereka dan satunya lagi untuk orang lain yang menemani presiden atau ajudanya. Kedua kamar mandi tersebut dilengkapi fasilitas dan furniture.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon