Friday, January 29, 2016

Sejarah Istana Merdeka di Jakarta

Istana Merdeka atau Istana Kemerdekaan adalah bangunan dengan luas sekitar 2.400 m2 yang dibangun pada masa pemerintahan gubernur Jend. J. W. Van Lansberge tahun 1873. Istana Merdeka masih dibangun dalam satu kapling yang sama dengan Istana Rijswijk. Sejarahnya dimulai dari rumah seorang pedagang bernama Jacob van Braam Andries pada tahun 1804. Saat itu pemerintah Hindia Belanda membelinya untuk dijadikan sebagai rumah administrasi dan dewan pertemuan.




Selama pertengan abad ke-19, Istana Rijswijk tidak lagi mencakupi untuk tujuan administrasi karena sudah pada dan sesak sehingga Gubernur Jend. Pieter Mijer memerintahkan pembangunan istana baru pada tahun 1869. Konstruksi pembangunan istana tersebut dimulai pada 23 Maret 1873 dibawah pemerintah Gubernur Jenderal James Loudon. Istana tersebut bernama Istana Neo-Palladian yang dirancang oleh Jacobus Bartholomeus  dan dibangun oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan memakan biaya 360.000 gulden belanda (ƒ). Gedung baru dibangun di bagian selatan yang diberi nama Istana Rijswijk dan langsung menghadap kearah Koningsplein (saat ini adalah lapangan merdeka).  Istana ini selesai dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jend. Johan Wihelm van Landsberge. Istana tersebut juga dikenal sebagai Istana Gambir. Selama Jepang berkuasa di Indonesia (1942-1945), para Saiko Shikikan (komandan tentara Jepang) tinggal di kompleks Istana Rijswijk.

Revolusi tahun 1945-1949 berakhir dengan pengakuan Belanda dari Republik Indonesia. Pada tahun 1949 Deklarasi kemerdekaan Indonesia dari Belanda diumumkan di Istana Gambir. Dalam upacara tersebut, bendera Belanda diganti dengan Bendera Indonesia. Banyak penonton yang bersukacita ketika bendera dikibarkan dan berteriak “MERDEKA!”. Sejak saat itu, Istana Gambir dikenal sebagai Istana Merdeka.  Tanggal 27 Desember 1949 sehari setelah upacara kemerdekaan, Presiden Soekarno dan keluarga tiba dari Yogyakarta. Untuk pertama kali, Presiden Republik Indonesia menetap di Istana Merdeka. Upacara tahunan pertama hari Kemerdekaan diadakan di Istana Merdeka pada tahun 1950. Sejak pembangunannya, 15 Gubernur Jend., 3 komandan Saiko Shikikan, dan 1 Presiden Indonesia telah merasakan bagaimana rasanya tinggal di Istana tersebut.

Perkembangan Istana Merdeka

Istana Merdeka tetap tidak berubah sejarah awal selesai pembangunannya pada tahun 1879. Setelah Kemerdekaan, Istana Merdeka diperluas tidak hanya Istana Merdeka saja tetapi juga dilakukan pembangunan gedung Wisma Negara, Sekretariat Negara, dan Bina Graha. Beberapa bangunan colonial dan tempat tinggalpun dihancurkan untuk dibuat menjadi jalan.

Sebuah gazebo segi delapan kecil yang terletak di halaman istana digunakan sebagai sekolah swasta untuk Soekarno dan anak-anak staff istana. Gazebo ini sebelumnya digunakan oleh para pejabat colonial Belanda sebagai muziekkoepel (music gazebo), dimana pertunjukan musk yang dimainkan bersama bola.

Ketika Soeharto menjadi presiden Indonesia ia membuat perubahan pada istana. Kamar tidur Soekarno diubah menjadi Ruang Bendera Pustaka dan ruang istri Soekarno (Fatmawati) menjadi kamar tidur Presiden. Sebuah bangunan kayu tua di komplek istana yang dikenal sebagai “Sanggar” dihancurkan dibuat menjadi jalan untuk pembangunan Puri Bhakti Renatama dan digunakan sebagai museum untuk menyimpan artefak berharga, karya senin dan hadiah dari utusan asing. Ia juga membangun gedung Bina Graha di Istana yang ia jadikan sebagai kantornya. 

Ketika Megawati menjabat, dia merubah gedung Puri Bhakti Renatama menjadi kantor presiden, sementara isinya dipindahkan ke gedung Bina Graha. Ia juga mengembalikan furniture, interior dan dekorasi ruangan tersebut sama dengan saat Soekarno menjabat. Ukiran kayu jepara Soeharto pun dipindahkan tapi tetap membiarkan Ruang Jepara ada sebagai pengingat rezim Soeharto.

Istana Merdeka Saat Sekarang
Saat ini Istana Merdeka berfungsi sebagai tempat acara-acara resmi Negara seperti Hari Kemerdekaan, menyambut pejabat (asing), pertemuan kabinet, jamuan makan Negara dan penerimaan surat kepercayaan dari duta besar asing. Selain itu, seperempat juga digunakan untuk urusan pribadi presiden dan kantor.

Urusan administratif Negara telah dipindahkan ke Istana Negara dan Sekretariat Negara sedang Istana Merdeka tetap menjadi simbol otoritas.
Tiang setinggi 17 m dan air mancur yang terletak dihalaman depan Istana Merdeka. Upacara pengibaran bendera tahunan berlangsung selama hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus, sering digunakan sebagai pangguang upacara untuk Presiden dan pejabat.

Ruangan di Istana Merdeka meliputi:

Ruang Kredensial, yang menyediakan pintu masuk ke istana dan adalah tempat dimana sebagian besar kegiatan diplomatic dilakukan seperti menerima tamu Negara dan duta besar. Ruang ini dihiasi dengan furniture sangat tua pada masa kolonial serta lukisan dan karya keramiknya.

Ruang Jepara, adalah mantan ruangan belajar dari Soekarno yang dinamai dari kota di Jawa Tengah, Jepara. Ruangan diukur membel kayu dan ornamen.

Ruang Raden Saleh, yang terletak di depan ruang Jepara. Ruangan tersebut sebelumnya digunakan sebagai kantor dan ruang tamu Ibu Negara. Megawati menyimpan 5 lukisan karya pelukis Indonesia Raden Saleh didalam ruangan tersebut.

Ruang Resepsi, adalah ruangan yang terbesar dari Istana. Biasanya digunakan sebagai perjamuan negara, makan malam gala negara, pertemuan nasional dan pertunjukkan budaya. Ada dua lukisan Basuki Abdullah, dinding timur Pergiwa Pergiwati tema lukisan dari Mahabharata dan dinding barat Jaka Tarub.

Ruang Bendera Pusaka, atau ruang Regalia yang digunakan untuk menyimpan Bendera Pusaka. Bendera Indonesia pertama yang diangkat selama deklarasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Presiden setelah Soekarno tidak lagi menjadikan istana sebagai tempat tinggal meskipun telah menjadi kediaman resmi presiden. Kantor istana masih digunakan oleh presiden Indonesia saat ini. Selama pemerintah Soeharto, beliau lebih suka tinggal dirumahnya sendiri di Jl. Cendana, Menteng. Sementara istana dan Bina Graha hanya digunakan sebagai kantornya. Istana kembali resmi menjadi kediaman selama pemerintahan Abdurrahman Wahid Megawati. Susilo Bambang Yudhoyono terkadang berada di Isntana Merdeka namun seperti halnya Soeharto, ia lebih suka tinggal dirumahnya sendiri di puri Cikeas, Jaksel.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon