Monday, August 8, 2016

Sejarah Bahasa Nasional

Membaca Sejarah Lama (8)
Oleh: Abdurrahman Wahid

Perkembangan bahasa Nasional kita, bahasa Indonesia, akan memperlihatkan sesuatu yang sangat menarik. Jika  dikaji dengan teliti bahasa ini dinyatakan sebagai bahasa nasional kita oleh Konggres Pemuda tahun 1928. Sekarang ia telah menjadi alat pemersatu kita sebagai bangsa, dan menjadi sebuah alat komunikasi yang efektif di kawasan ini, di saat bahasa Inggris  menjadi sebuah alat komunikasi Internasional –yang, mau tak mau harus kita kuasai juga.




Perkembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional  --menjadi sangat menarik untuk dikaji, ketika kita tahu bahwa bahasa Inggris telah berkembang menjadi sesuatu  yang bersifat internasional. Kalau bahasa-bahasa eropa mengembangkan diri masing-masing sebagai bahasa nasional  dengan segala kesempitan masing-masing bangsa, dan bahasa Inggris menjadi alat komunikasi internasional yang terbuka luas, maka bahasa Indonesia telah berkembang menjadi bahasa  nasional  yang luas.
Kalau bahasa Inggris berkembang dengan keragaman yang tinggi (pidgin englishes) dan bahasa nasional masing-masing --di eropa barat menunjukkan kecenderungan yang monoton sebagai salah satu bentuk formalisasi,  maka bahasa Indonesia justru membuka diri  secara luas dengan keragaman tinggi sebagai bahasa nasional yang terbuka. Di samping bahasa nasional sebagai unsur pemersatu bangsa, kita kenal juga sistem kepegawaian  yang satu bagi seluruh kawasan bangsa dan pola pembangunan daerah yang saling bergantung satu sama lain, maka bahasa Indonesia menjadi alat perekat bagi semua suku bangsa yang ada di negeri ini.

Bahasa Indonesia bermula dari bahasa melayu. Tetapi berbeda dari bahasa Malaysia, bahasa Tagalog di Philipina dan bahasa Patani di Thailand selatan, maka bahasa melayu, di negeri ini berkembang menjadi bahasa nasional yang mempersatukan kita sebagai bangsa.  Kalau yang lain mengembangkan diri dengan  jalan memenangkannya atas bahasa-bahasa daerah dan di kawasan masing-masing, maka bahasa Indonesia justru berkembang dengan menyerap unsur daerah   yang saling berbeda, seperti kata “mantan” –yang, berasal dari bahasa Madura dan Sunda menjadi istilah nasional untuk menggantikan kata “bekas”.

Di sinilah terletak perkembangan yang sangat menarik itu. Sir Winston Churchill memenangkan hadiah nobel untuk sastra, antara lain karena ia membuat istilah english-speaking peoples, untuk menunjuk aneka ragam bangsa yang menggunakan bahasa internasional tersebut. Kita justru memperkenankan berbagai  suku bangsa mengembangkan bahasa  nasional yang satu dengan berbagai keragaman  bentuk. Kalau ada english-speaking peoples in the whole worlds, meminjam istilah Churchill kita justru memperkenankan suku-suku bangsa kita mengembangkan  bahasa nasional yang satu tapi berbentuk dan berbunyi lain-lain (pidgin Indonesian).
Kelenturan diri seperti inilah yang menjadikan bahasa nasional kita mampu berkembang dengan pesat, digunakan oleh jumlah yang sangat besar, yaitu hampir 210 juta jiwa. Kalau ini kita lihat sebagai keanekaragaman yang membuktikan kelenturan  dan sekaligus kesatuan kita sebagai bangsa, kita dapat mengerti mengapa bahasa ini dapat berkembang menjadi alat komunikasi yang canggih. Kata “canggih” itu sendiri menunjukan kelenturan bahasa Indonesia untuk menyerap budaya setempat (dalam hal ini budaya jawa).

Bahasa Indonesia mulai tumbuh, ketika Raja Haji Ali di Riau membuat standardnya sendiri atas bahasa melayu yang dipakai di kawasan  pemerintahannya di Riau pada dua sampai tiga abad yang lalu. Standarisasi yang dilakukannya itu memenangkan versi yang dimilikinya untuk berkembang menjadi bahasa umum (lingua franca) yang segera diambil alih oleh dunia perdagangan dan komunikasi di kawasan tersebut. Segera pula, ia berkembang menjadi bahasa administrasi  kita sebagai bangsa. Keputusan Konggres Pemuda tahun 1928 untuk menjadikannya sebagai bahasa nasional, hanyalah menjadi langkah formalisasi atas kenyataan yang ada.

Segera para sastrawan kita mengambil alih standarisasi itu dan menggunakan dalam karya-karya mereka.  Siti Nurbaya dari Marah Rusli dalam tahun belasan, Salah Asuhan dari Abdul Muis menjelang perang dunia ke II dan novel-novel Marga T dalam dasawarsa 60-an, menunjukkan standar yang sama dalam penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Ini menunjukkan mantapnya perkembangan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut pandangan historis dan antropologis, hal itu sangat menakjubkan kalau dibandingkan dengan berbagai bangsa besar yang tidak mampu membuat bahasa nasional mereka. Terpaksalah mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Ada keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari proses itu, tetapi kerugiannya juga tidak sedikit.

Karena itu, kita patut berbangga dengan bahasa nasional kita, karena sewaktu penulis menjadi Presiden menyatakan dalam pidato --dalam penerimaan gelar honoris causa di muka Asian Institute of Technology di Bangkok, bahwa perkembangan tehnologi informasi (IT, information technology) di negeri ini haruslah menggunakan bahasa nasional , karena hanya ada sekitar sepuluh sampai dua puluh juta manusia akan mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional Inggris. Mengapa kita berkeras menjadikan bahasa Inggris bahasa tehnologi informasi kita di masa mendatang? Bukankah dengan berkeras pada bahasa Indonesia sebagai bahasa “teknologi Informasi” kita di masa mendatang, kita akan dapat membuat bagian terbesar bangsa kita berbahasa “IT”? 



Kramat Raya, 30 November 2001
*Penulis adalah Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon